RSUD Cibinong

RSUD CIBINONG KABUPATEN BOGOR TINGKATKAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
DAN BAHAN BERBAHAYA (B2) DENGAN IPAL DAN INCINERATOR

Untitled-1

Perlu kita ketahui bersama bahwa hampir seluruh kegiatan Rumah Sakit mengandung bahan organik, anorganik, mikroorganisme pathogen, dan sebagainya yang dapat mencemari lingkungan. Oleh sebab itu, pengolahan terhadap limbah sangat penting dilakukan agar lingkungan sebagai penerima limbah yang dihasilkan dari kegiatan pelayanan kesehatan tidak mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan serta tidak berdampak buruk kepada masyarakat sekitarnya.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang berada di Kabupaten Bogor tentunya juga menghasilkan limbah yang cukup besar dalam setiap kegiatannya, mengingat bahwa RSUD Cibinong merupakan salah satu Rumah Sakit Rujukan Regional Jawa Barat, maka pengolahan limbah baik limbah cair maupun padat harus dikelola dengan baik. Pada tahun 2011 RSUD Cibinong mulai mengembangkan alat yang digunakan dalam pengolahan limbah tersebut, dimana untuk limbah cair ada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk pengolahannya, sedangkan untuk limbah padat atau Bahan Berbahaya (B2) menggunakan Incinerator.

3_2
Pengolahan limbah cair RSUD Cibinong dilakukan di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan menggunakan Sistem Liquid-Bionet yang merupakan sistem air limbah secara biologis, dimana dalam sistem ini menggunakan bantuan bakteri sebagai pengurainya. Bakteri atau biomassa pengurai limbah tersebut ditumbuhkan dalam bentuk campuran antara biomassa tersuspensi dan biomassa yang melekat pada media di dalam bak aerasi (Aeration Tank).
Dalam pengolahanya tersebut melalui 6 tahap yakni dimulai dari tahap pertama (Pretreatment) yaitu penyaringan air limbah dari kayu dan plastik, kemudian setelah tersaring air akan masuk ke bak ekualisi. tahap ke-2 disebut juga (Primary Treatment) dimana air yang telah melewati tahap pretreatment dimasukan ke tangki aerasi I untuk memisahkan antara padatan dengan air, lumpur atau padatan tersebut sebagian akan mengendap dan mengapung. Selanjutnya masuk tahap ke-3 dimana air limbah yang berada di tangki aerasi I akan mengalir secara gravitasi menuju ke tangki aerasi II, pada tangki ini dilengkapai dengan perpipaan distribusi udara/oksigen dari blower dan difusser dibagian dasar sebagai pertumbuhan bakteri. Kemudian masuk ke tahap yang ke-4 (Tertiary Treatment) tahap ini merupakan pengendapan akhir di tangki aerasi III untuk memisahkan antara lumpur/padatan dengan air sebelum mengalir ke bak indikator. Pada tahap ke-5 sebagai bahan percobaan uji kandungan air didalam bak indikator tersebut diberi ikan, jika ikan di bak indikator tersebut mati berarti air tersebut masih mengandung bahan kimia, akan tetapi jika ikan tersebut masih hidup berarti air tersebut sudah dinyatakan tidak meracuni biota air. Pada tahap terakhir (Effluent dan Disinfection) setelah melewati bak indikator, air limbah dialirkan ke bak effluent dan dilakukan Treatment Desinfection. Air yang sudah aman tersebut, memiliki kriteria sebagai air yang tidak berasa, berbau, dan berwarna.

4_2
Pengolahan limbah B2 RSUD Cibinong menggunakan Incinerator alat ini mampu membakar limbah B2 seperti botol, selang infus, jarum suntik, dan peralatan medis lainnya hingga mencapai 200 kg dengan suhu tinggi yakni hingga 12000C. Pembakaran limbah B2 RSUD Cibinong ini dilakukan setiap hari, mengingat bahwa jumlah sampah B2 yang dihasilkan RSUD Cibinong mencapai 200 kg setiap harinya.
RSUD Cibinong bekerjasama dengan PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) yang merupakan home base atau fasilitas utama pengelolaan dan pengolahan limbah bahan berbahaya (B2), dimana limbah B2 yang sudah dimusnahkan dengan Incinerator milik RSUD Cibinong ini nantinya diangkut oleh PPLI sebagai perusahaan yang khusus mengolah limbah B3.
Dengan adanya IPAL dan Incinerator tersebut pengolahan limbah di RSUD Cibinong sudah berjalan sesuai standar dan aman bagi masyarakat yang tinggal di sekitar RSUD Cibinong.

2017 © RSUD Cibinong